Wednesday, March 10, 2010

Solaris X64 Installations on VMWare Workstation 7




Many people don't have possibility to install Solaris and don't have a chance to using this Operating System. So this step by step is a solution to have your own Solaris in your machine. In this post, I will tell you how to do Solaris X64 Installation on VMware. Enjoy this step by step and do it yourself on you machine. If there's any question, you can ask Google or contact Solaris Expert.
  1. At first, you must prepare your virtual machine on VMware. Choose New Virtual Machine like below picture.




    After that, continue your preparation on the pop-up windows by choosing Typical.

    Next, find your Solaris Iso file to be installed.


    Then give a name to your Virtual Machine and located your Virtual Machine files.
    then specify your Disk Capacity like below picture.


    Ready to create your Virtual Machine after you sure about all setting and press Finish button.


  2. After your Virtual Machine ready to use, next you can start Solaris X64 installation.


  3. Choose 4 to using Solaris Interactive Text (Console Session) through installation.

  4. Specify your keyboard layout.

  5. Select your language. In this installation I using English
  6. Click Next

  7. Choose Networked then Next

  8. Specify whether to use DHCP to configure interface. Select No to configure this interface manually.

  9. Enter Hostname to identifies this system on the network then click Next.

  10. Enter IP Address for this network interface. In this example, I using 192.168.2.201.

  11. Specify the netmask of your subnet then click Next.

  12. Specify whether or not you want to enable IPv6 then click Next.

  13. You can specify your IP Address of the router.

  14. Enter the IP Address of the default route.

  15. Select no to disable Kerberos then click Next.

  16. Choose None if your system will either, not use a name service at all, or if it will use a name service not listed here.

  17. Use the NFSv4 domain derived by the system then click Next.

  18. Select your default time zone.

  19. Use the tree to specify your default timezone.

  20. Accept the default date and time then click Next.

  21. Type your root password

  22. Select Yes to enables a larger set of services as in previous Solaris releases.

  23. If all information has fix then you can confirm installation.

  24. Solaris installation begin. Click Next button.

  25. Look at the below picture then click Next.

  26. Specify the media from which you will install the Solaris OS.

  27. Just checked then Next. hehehe.. don't need to be read.. lol

  28. Select Custom Install customize the product install.

  29. Select the software localizations. In this installation I choose North America > English (United States, UTF-8) to perform SAP installation then.

  30. Select system locale then click Next.

  31. Select non for Additional Products and click Next.

  32. Select Solaris Software Group. In this installation, I choose Entire Group Plus OEM Defaul Packages for installation.

  33. Select disk to lay out the file systems on.

  34. Select disk for fdisk partition customization and click Next.

  35. Use default setting then Next.

  36. Modify your Lay Out of File System.

  37. Ready to Install... hahay!!

  38. Wait and see...

  39. Don't forget to install VMWare tool on this virtual machine. Instruction of VMware Tool installation can be found in VMware help.

  40. Reboot your virtual machine.






  41. ENJOY YOUR SOLARIS AND COFFEE...
Continue Reading...

Friday, January 01, 2010

Saya Kira 2009 Sudah Layak Selesai


Embun di daun-daun talas masih betah menetap paska terror hujan kemarin sore, juga matahari masih terlalu dini untuk menyinari pagi-pagi terdingin di penghujung tahun, hanya sisa-sisa bintang saja yang masih perkasa berlaksa-laksa banyaknya diangkasa dini hari ini...

365 hari dilewati dengan sempurna lengkap dengan suka dan dukanya, senang dan sedihnya, sehat dan sakitnya, besar dan kecilnya elemen-elemen dasar kehidupan saya. Langkah pertama bertanggal 1 dirasa baru kemarin saja dan langkah terakhir bernomor 31 hampir punah terlewati, yup! Satu tahun kawan!
Sepertinya saat akan tidur tadi adalah tahun baru dan ketika tidur saya bermimpi kehidupannya hingga akhirnya saya terbangun menemukan jiwa raga telah terkapar di penghujung tahun yang lebih baru lagi.
Hari-hari dalam mimpi di isi cerita-cerita takdir bahwa begitulah seharusnya saya hidup dalam jeratan narasi kehidupan karya Tuhan. Setiap bab-nya tersegmentasi menjadi yang sedih, senang, perih dan terkadang merasa menang..
Kepala plontos mengawali tahun ini dan terus menerus sepanjang 52 minggu hingga berlanjut ke tahun berikutnya. Sukses menempelkan karakter dengan tipikal wajah gundul dan berjenggot panjang, ibarat Kerry King dari Slayer. Rumah Sakit pernah menjadi saksi bisu selama 2 minggu saya terkapar dibuai bronchitis akibat dinginnya ruang server dan paru-paru dilubangi tragedi dari nikotin dan polusi ibukota. Uang yang seharusnya saya gunakan untuk modal mobilitas atau dengan kata lain bisa berubah wujud menjadi tunggangan beroda dua, ludes untuk ditukarkan dengan menginap selama 10 hari 9 malam berfasilitas infus, suntikan obat-obatan, pil pahit dan sentuhan hangat malaikat-malaikat penolong bernama suster. Suatu awal yang buruk bukan??
Selang tiga hari sejak bangkit dari cengkeraman kondisi tubuh terinfus, saya langsung dihajar oleh hentakan keras musik metal core ala Lamb of God. Bukan hanya itu point pentingnya, baru kali itu saja saya menonton konser di wilayah tribun, dengan alasan masih belum fit-nya kondisi tubuh, karena biasanya juga saya paling giat merazia setiap jengkal moshing pit, berputar, melompat dan membaringkan tubuh diatas para manusia lain. Tidak berhenti sampai disitu saja, kecanduan saya akan konser memaksa saya untuk menyambangi setiap arena dimana sekelompok orang yang berfusi menjadi sebuah band menampilkan kepiawaiannya menciptakan nada-nada keras, yang saya ingat ada Mr. Big, Secondhand Serenade dan entah musisi luar negeri siapa lagi yang saya lihat tahun ini. Terakhir, sekitar dua minggu kemarin, saya sukses menghadiri konser Total Chaos di Bandung, dan tercatat sebagai band asing terakhir di tahun 2009 yang saya lihat. Belum lagi event-event lokal yang saya hadiri, seperti Bandung DeathFest 4 contohnya. Lagi-lagi selalu ada alasan untuk merobek-robek uang menjadi pecahan-pecahan kepuasan dan kesenangan, mulai dari tontonan hingga yang dipertontonkan.
Pekerjaan yang hasilnya diproyeksikan untuk menyokong pendanaan pencarian kesenangan pun tidak lebih baik dari tahun sebelumnya. Hanya segelintir project kecil terbilang cemen yang berhasil diselesaikan, dan kesemuanya pun adalah nothing buat saya. Hanya sedikit sekali yang bisa dikonversikan menjadi skill pribadi dan pengetahuan penunjang pendulang uang. Untuk yang diluar pekerjaan kantor pun lumayan untuk memapankan uang jajan. Tercatat ada beberapa website yang berhasil dibuat dan memberikan kontribusi uang tambahan yang begitu membuat tangan gatal untuk menukarkannya dengan barang dalam setahun ke belakang. Selain itu juga, Laptop sebagai perpanjangan tangan dalam pekerjaan sempat mati suri selama beberapa hari meminta organ tubuhnya yang terbakar diganti, untungnya gratis kawan!
Satu hal lagi yang saya ingat juga adalah ketika saya harus berhadapan dengan sekitar tigapuluhan orang beringas mengatasnamakan sepakbola di tahun ini. Secara tidak langsung saya sudah dekat dengan maut. Pukulan telak ke arah wajah seolah wajar hanya karena saya menggunakan kaos tim sepakbola kesayangan saya dihadapan para supporter monyet yang beraninya gotong-royong menghabisi musuhnya. Kejadian tersebut membuat saya begitu dendam dan selalu ingin membalas.
Sisa cerita paling tidak penting dari tahun ini adalah saya menyisakan satu alat komunikasi dan mengganti yang lama dengan yang baru alias ganti HP. Senasib dengan tunggangan roda dua yang baru juga, yang akhirnya eksis dan siap melayani saya melacuri jalanan kota Bandung..
Tidak lebih dari 24 jam ke depan, semua cerita diatas akan menjadi cerita usang tahun lalu dan bersambung dengan cerita lain ditahun yang baru dengan alur cerita yang lebih menarik, padahal buat saya biasa saja..

Semoga saja, semua mimpi-mimpi pagi ini seindah kenyataan 365 hari ke depan..


Yafet St.
Bdg311209
Continue Reading...

Wednesday, December 23, 2009

Merry Christmas & Happy New Year 2010


Love, Peace and Joy came down on earth on Christmas day to make you happy and cheerful. May Christmas spread cheer in your lives!

Continue Reading...

Thursday, May 07, 2009

Persinggungan Derita dan Cinta Magna

"Why go home...?
She seems to be stronger,
but what they want her to be is weak
She could play pretend, she could join the game, boy!
She could be another clone" -- Pearl Jam




Seorang teman lama beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya temui di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan. Seseorang yang dulu ketika saya masih tinggal diBandung dikenal sebagai seseorang yang sangat bersahabat, sangat mudah diingat perangainya ketika ada salah seorang sahabatnya dilukai. Magna adalah wanita yang hebat, bersahabat dekat dengan orang-orang disekitarnya termasuk saya. Setelah tenggat waktu yang cukup lama tidak bertemu dengannya, Magna berubah dari seorang wanita yang ceria dan mudah akrab dengan siapa saja yang baru ditemuinya menjadi seorang Magna yang murung, tatapannya kosong, pembicaraannya seperti menyimpan bentangan rahasia yang sangat tidak mungkin diketahui lawan bicaranya. Saya sempat ragu-ragu untuk menyapanya, namun saya ingat pada luka gores di lengan sebelah kirinya yang membekas sampai sekarang dan membekas pula dalam ingatan saya dan juga sebuah tattoo tribal pada betis sebelah kanannya berukuran sekitar 15 sentimeter. Saya ingat itu semua, karena saya melihat saat penempatan tanda-tanda itu pada bagian tubuhnya yang diiringi dengan cerita mengapa Magna ingin memiliki tattoo tersebut dan cerita pendek tentang luka gores yang Magna ceritakan dengan humor.

"Magna??" saya berkata sambil menyodorkan tangan sebagai tanda untuk membangun kembali komunikasi dengannya. Dia terheran-heran lalu membalas memanggil nama saya dan saya balas dengan anggukan. Dia tersenyum seolah menemukan catatan lama yang telah hilang dan dicari-cari kembali karena isi catatannya tersebut begitu penting. Lantas setelah sedikit berbasa-basi, kami berdua, beralih ke sebuah kios disekitar situ sambil duduk-duduk dan menikmati minuman botol dingin. Jakarta begitu panas membakar, membuat kami kegerahan. Panjang lebar kami berbagi cerita yang hilang selama kami tidak saling bertemu dalam rentang waktu sekitar 6 tahun. Ada suatu perasaan penasaran dalam diri saya, mengapa Magna yang ada dihadapan saya sangatlah berbeda dengan Magna yang dulu. Magna yang dulu hidup senang, selalu ceria dan tak pernah berpikir dengan kesusahan-kesusahan seolah tak peduli bahwa kesulitan itu ada. Sedikit demi sedikit dia mulai mau menceritakannya, mengapa Magna seperti sekarang. Dia diusir keluarganya dan sempat hidup dijalanan, bagi saya adalah tidak pantas untuk seorang wanita cantik seperti Magna hidup dijalan. Hanya karena memilih berkeyakinan sendiri dan mau merubah jalan hidupnya, dia diusir dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarganya. Cerita tragis yang memang nyata dan sangat sulit diterima bagi saya dan mungkin bagi beberapa orang teman-temannya. Magna berpacaran dengan seorang pria yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya dan keluarganya. Sampai akhirnya Magna lebih memilih Pacarnya ketimbang keluarganya sendiri, karena dia begitu mencintai pria tersebut hingga dia diusir dari hubungan kerabat kandungnya.

Saya kira dulu keluarga Magna adalah keluarga yang cukup memberi kebebasan bagi anaknya. Hubungan Anak dan orang tua hancur hanya karena si anak mau memilih jalan sendiri. Memang maksud kedua orang yang menjadi cikal bakal Magna tentang keyakinan adalah baik, mereka menginginkan anaknya agar dapat tumbuh dewasa besar dan berkeluarga sesuai dengan pikirannya, sebuah jebakan stereotip yang sangat-sangat dipaksakan pada pemikiran anak muda sekarang. Seolah teguh hati, Magna akhirnya lebih memilih pada kata hatinya sendiri dan mengikuti pacarnya. Pada pertemuan tersebut, Magna menceritakan kepedihannya, saya sangat miris mendengarnya. Ketika saya melihat wajahnya, saya seperti menemukan jiwanya yang sudah tidak sempurna karena digerogoti masalah hidup. Antara pilihan dan takdir. Antara kehidupan dan kebenaran. Mana yang seharusnya Magna pilih dan lalui. Pemikiran manusia modern hampir tidak ada bedanya dengan pola pikir manusia-manusia lama, begitu juga kultur budaya negeri ini begitu kuat mengakar dan tertanam dalam turun temurun. Pastinya si anak harus tunduk kepada orang tua dan orang tua memiliki hak penuh atas pemilihan jalan si anak, ditambah lagi jika anak tersebut adalah seorang perempuan yang hidupnya seperti telah terkunci oleh batasan-batasan orang tua dan lelaki. Kasih sayang orang tua kadang justru yang paling tidak patut untuk dilawan demi keluar dari kekangan yang mengunci jalan hidupnya menuju suatu kebebasan. Apakah arti kebebasan jika karenanya membuat hati orang tua yang mengasihi dan menyayangi menjadi menderita juga? bukankah itu hanya perpindahan derita juga?
Magna tak kurang menderita daripada perempuan-perempuan lain yang hidup dibawah penindasan aturan-aturan norma dan budaya. Penderitaan disini bukan sebagai gagasan, hanya sebagai akibat. Akibat memilih antara yang terbaik untuk diri sendiri atau terbaik untuk orang lain. Akan tetapi dimana ada derita, maka disana pun akan ada suka, suka karena bisa mengikuti kata hati dan keinginan diri tetapi terlingkup derita karena rasa bersalah yang sangat dalam atau derita karena rasa tidak sependapat dengan orang tua. Memang orang tidak akan merasakan penderitaan Magna jika tidak mengerti atau tidak mengetahuinya, termasuk juga orangtuanya sendiri. Begitu mengerti maka orang-orang disekitar Magna akan sangat menderita karena tidak bisa berbuat sesuatu.

Hingga saat ini Magna masih menjalani kisah kehidupan suami istri dengan bahagia bersama seorang lelaki yang tidak disetujui oleh kalangan keluarganya sendiri. Dia terus-menerus berpikir, apakah dia bersalah karena memilih jalan hidupnya sendiri sehingga harus menderita demi rasa sukacita dengan suaminya. Perang batin ini akan terus bergejolak hingga datangnya Deux ex machina (Tuhan dari mekanisme) dengan kata lain Magna harus menunggu suatu kekuatan atau kejadian yang datang secara tak terduga datang menyelamatkannya dari puncak kesulitan. Tapi saya yakin bahwa Magna adalah perempuan yang kuat dan yakin akan pilihannya, bahkan mampu untuk membunuh setiap rasa derita yang terus mengikuti kehidupannya. She's a rebel!


NB: semuanya hanya karangan fiktif, bila ada kemiripan tokoh dan cerita mohon maaf -- Yafet awal 2009
Continue Reading...
 

+dimanaanakku+ Copyleft © 2009 AllFight Deserved | WoodMag is Designed by Ipietoon and Modified by Yafet St. OfGod