Thursday, May 07, 2009

Persinggungan Derita dan Cinta Magna

"Why go home...?
She seems to be stronger,
but what they want her to be is weak
She could play pretend, she could join the game, boy!
She could be another clone" -- Pearl Jam




Seorang teman lama beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya temui di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan. Seseorang yang dulu ketika saya masih tinggal diBandung dikenal sebagai seseorang yang sangat bersahabat, sangat mudah diingat perangainya ketika ada salah seorang sahabatnya dilukai. Magna adalah wanita yang hebat, bersahabat dekat dengan orang-orang disekitarnya termasuk saya. Setelah tenggat waktu yang cukup lama tidak bertemu dengannya, Magna berubah dari seorang wanita yang ceria dan mudah akrab dengan siapa saja yang baru ditemuinya menjadi seorang Magna yang murung, tatapannya kosong, pembicaraannya seperti menyimpan bentangan rahasia yang sangat tidak mungkin diketahui lawan bicaranya. Saya sempat ragu-ragu untuk menyapanya, namun saya ingat pada luka gores di lengan sebelah kirinya yang membekas sampai sekarang dan membekas pula dalam ingatan saya dan juga sebuah tattoo tribal pada betis sebelah kanannya berukuran sekitar 15 sentimeter. Saya ingat itu semua, karena saya melihat saat penempatan tanda-tanda itu pada bagian tubuhnya yang diiringi dengan cerita mengapa Magna ingin memiliki tattoo tersebut dan cerita pendek tentang luka gores yang Magna ceritakan dengan humor.

"Magna??" saya berkata sambil menyodorkan tangan sebagai tanda untuk membangun kembali komunikasi dengannya. Dia terheran-heran lalu membalas memanggil nama saya dan saya balas dengan anggukan. Dia tersenyum seolah menemukan catatan lama yang telah hilang dan dicari-cari kembali karena isi catatannya tersebut begitu penting. Lantas setelah sedikit berbasa-basi, kami berdua, beralih ke sebuah kios disekitar situ sambil duduk-duduk dan menikmati minuman botol dingin. Jakarta begitu panas membakar, membuat kami kegerahan. Panjang lebar kami berbagi cerita yang hilang selama kami tidak saling bertemu dalam rentang waktu sekitar 6 tahun. Ada suatu perasaan penasaran dalam diri saya, mengapa Magna yang ada dihadapan saya sangatlah berbeda dengan Magna yang dulu. Magna yang dulu hidup senang, selalu ceria dan tak pernah berpikir dengan kesusahan-kesusahan seolah tak peduli bahwa kesulitan itu ada. Sedikit demi sedikit dia mulai mau menceritakannya, mengapa Magna seperti sekarang. Dia diusir keluarganya dan sempat hidup dijalanan, bagi saya adalah tidak pantas untuk seorang wanita cantik seperti Magna hidup dijalan. Hanya karena memilih berkeyakinan sendiri dan mau merubah jalan hidupnya, dia diusir dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarganya. Cerita tragis yang memang nyata dan sangat sulit diterima bagi saya dan mungkin bagi beberapa orang teman-temannya. Magna berpacaran dengan seorang pria yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya dan keluarganya. Sampai akhirnya Magna lebih memilih Pacarnya ketimbang keluarganya sendiri, karena dia begitu mencintai pria tersebut hingga dia diusir dari hubungan kerabat kandungnya.

Saya kira dulu keluarga Magna adalah keluarga yang cukup memberi kebebasan bagi anaknya. Hubungan Anak dan orang tua hancur hanya karena si anak mau memilih jalan sendiri. Memang maksud kedua orang yang menjadi cikal bakal Magna tentang keyakinan adalah baik, mereka menginginkan anaknya agar dapat tumbuh dewasa besar dan berkeluarga sesuai dengan pikirannya, sebuah jebakan stereotip yang sangat-sangat dipaksakan pada pemikiran anak muda sekarang. Seolah teguh hati, Magna akhirnya lebih memilih pada kata hatinya sendiri dan mengikuti pacarnya. Pada pertemuan tersebut, Magna menceritakan kepedihannya, saya sangat miris mendengarnya. Ketika saya melihat wajahnya, saya seperti menemukan jiwanya yang sudah tidak sempurna karena digerogoti masalah hidup. Antara pilihan dan takdir. Antara kehidupan dan kebenaran. Mana yang seharusnya Magna pilih dan lalui. Pemikiran manusia modern hampir tidak ada bedanya dengan pola pikir manusia-manusia lama, begitu juga kultur budaya negeri ini begitu kuat mengakar dan tertanam dalam turun temurun. Pastinya si anak harus tunduk kepada orang tua dan orang tua memiliki hak penuh atas pemilihan jalan si anak, ditambah lagi jika anak tersebut adalah seorang perempuan yang hidupnya seperti telah terkunci oleh batasan-batasan orang tua dan lelaki. Kasih sayang orang tua kadang justru yang paling tidak patut untuk dilawan demi keluar dari kekangan yang mengunci jalan hidupnya menuju suatu kebebasan. Apakah arti kebebasan jika karenanya membuat hati orang tua yang mengasihi dan menyayangi menjadi menderita juga? bukankah itu hanya perpindahan derita juga?
Magna tak kurang menderita daripada perempuan-perempuan lain yang hidup dibawah penindasan aturan-aturan norma dan budaya. Penderitaan disini bukan sebagai gagasan, hanya sebagai akibat. Akibat memilih antara yang terbaik untuk diri sendiri atau terbaik untuk orang lain. Akan tetapi dimana ada derita, maka disana pun akan ada suka, suka karena bisa mengikuti kata hati dan keinginan diri tetapi terlingkup derita karena rasa bersalah yang sangat dalam atau derita karena rasa tidak sependapat dengan orang tua. Memang orang tidak akan merasakan penderitaan Magna jika tidak mengerti atau tidak mengetahuinya, termasuk juga orangtuanya sendiri. Begitu mengerti maka orang-orang disekitar Magna akan sangat menderita karena tidak bisa berbuat sesuatu.

Hingga saat ini Magna masih menjalani kisah kehidupan suami istri dengan bahagia bersama seorang lelaki yang tidak disetujui oleh kalangan keluarganya sendiri. Dia terus-menerus berpikir, apakah dia bersalah karena memilih jalan hidupnya sendiri sehingga harus menderita demi rasa sukacita dengan suaminya. Perang batin ini akan terus bergejolak hingga datangnya Deux ex machina (Tuhan dari mekanisme) dengan kata lain Magna harus menunggu suatu kekuatan atau kejadian yang datang secara tak terduga datang menyelamatkannya dari puncak kesulitan. Tapi saya yakin bahwa Magna adalah perempuan yang kuat dan yakin akan pilihannya, bahkan mampu untuk membunuh setiap rasa derita yang terus mengikuti kehidupannya. She's a rebel!


NB: semuanya hanya karangan fiktif, bila ada kemiripan tokoh dan cerita mohon maaf -- Yafet awal 2009
Continue Reading...

Sunday, January 25, 2009

Sedikit Tentang Simbol Swastika dan Nazi

Kenapa lambang tersebut dinamakan Swastika, asal katanya dari bahasa Sansekerta (svastika, "su" berarti "good", "asti" berarti "to be" dan "ka" sebagai sebuah akhiran). Sebelum digunakan Nazi sebenarnya simbol tersebut telah banyak digunakan oleh banyak kebudayaan selama 3000 tahunan untuk melambangkan kehidupan, matahari, tenaga, kekuatan dan keberuntungan. Bahkan pada awal abad 20, Swastika merupakan sebuah simbol yang memiliki konotasi positif. Sebagai contoh, swastika jg digunakan sebagai hiasan bungkus rokok, kartu post, koin dan bangunan-bangunan. Selama perang dunia pertama, simbol swastika bahkan terlihat di bagian pundak seragam tentara Amerika Divisi ke 45 hingga setelah Perang dunia ke 2 (gambarnya: http://www.m38a1.com/images/Thunderbird_Patches.jpg)

Sekitar tahun 1800an negara-negara disekitar Jerman bertumbuh semakin besar dan mendirikan kekaisaran. Sebelumnya Jerman tidak berbentuk negara hingga tahun 1871. Untuk melawan trauma dan menghilangkan rasa luka atau stigma para pemudanya, kelompok nasionalis di pertengahan abad 19 mulai menggunakan simbol Swastika, karena merupakan simbol purba etnis Arya/Indian untuk mewakili sejarah panjang orang-orang Jerman/Arya. Pada akhir abad 19, Simbol swastika dapat ditemukan pada pergerakan berbau etnis nasionalis Jerman.

Pada 1920, Adolf Hitler memutuskan bahwa Partai Nazi memerlukan lencana dan bendera yang dapat melambangkan partainya. For Hitler, the new flag had to be "a symbol of our own struggle" as well as "highly effective as a poster." (baca Mein Kampf halaman 495). Kemudian pada 7 Agustus 1920, ketika kongress di Salzburg, bendera ini menjadi lambang resmi dari Partai Nazi.
Dalam Mein Kampf, Hitler mendeskripsikan bendera baru Nazi tersebut sebagai:

"In red we see the social idea of the movement, in white the nationalistic idea, in the swastika the mission of the struggle for the victory of the Aryan man, and, by the same token, the victory of the idea of creative work, which as such always has been and always will be anti-Semitic." (halaman 496-497)
Karena bendera dan Atribut Nazi yang menggunakan simbol Swastika, arti swastika itu sendiri bahkan menjadi sebuah simbol kebencian, antisemitism, kekerasan, kematian dan pembunuhan..

Untuk lebih jelasnya bisa menggali dari http://en.wikipedia.org/wiki/Swastika

Written By: St. Yafet - Sumber: berbagai sumber
Continue Reading...

Sebelum Tidur Part 3


Ada 1, kemudian 2, dan akhirnya kutuliskan yang ke 3. Entah apa yang harus aku tulis disini,aku terbingung-bingung. Beberapa hari belakangan tak ada moment fenomenal yang aku kira layak untuk diceritakan disini. Mungkin fenomena Blackberry yg mendemami orang-orang cukup menjadi hal baru yang digandrungi. Aku sempat merasa aneh, ada orang yang beli BB cm biar keliatan mengikuti tren, yang lebih parah ada yang beli BB cuma buat chatting saja atau melototin Facebook. Absurb ya? dikala beberapa negara dilanda krisis, lantas orang-orang berusaha mempertahankan remah-remah terkunyah deretan gigi, di Indonesia malah menyia-nyiakan lembaran uang untuk sekedar mengikuti lifestyle.
Tadi juga aku membaca disebuah surat kabar nasional bahwa BB juga begitu disukai Presiden Amerika yang baru dilantik Barrack Obama,hanya saja karena faktor keamanan, penggunaannya dibatasi. ya semoga saja epidemi BB tidak menurun ke kalangan bawah.
Ada lagi info menarik yang baru saja aku dengar berhubungan dengan meledaknya depo Pertamina di Plumpang, yaitu bahwa insiden tersebut memang disengaja terjadi untuk tujuan Stress Test saja, alasannya karena saat ini harga minyak dunia sedang turun, kemudian memang tangki yang menjadi target meledak telah ditentukan dan juga isinya tidak full. Kira-kira masuk akal ga? Bisa jadi sih, untuk alasan kesiapan system mereka.

Dini hari pun telah semakin nyata, aku belum terkantuk sedikit pun. Beberapa lembar tulisan pada buku itu pun telah aku telusuri untuk sekedar melelahkan mata,namun kurang ampuh!
Hingga akhirnya aku meneruskan sekuel 'Sebelum Tidur' ini dan berharap dapat menceritakan sedikit cerita tak bermakna. Aku pun memejamkan mata dan mulai membangun mimpi dalam khayalan dikepalaku.
Selamat malam dan tetap semangat!

*ditulis dengan harapan dapat terlelap dengan tenang dan damai*
Continue Reading...

Tuesday, January 20, 2009

Proud To Using Bahasa Sunda


Sigana teu mantes lamun asal usul jeung profil ti Bandung tapi teu make basa Sunda, sabab Bandung teh ayana di Ja wa Barat, salah sahiji kota dimana popularitasna dominan ku suku Sunda. Leresna mah Jawa Barat teh ide ntik jeung suku Sunda. Tapi bisa oge ketang ku suku nu laen. Da aslina oge aing mah lain urang sunda. Nini jeung aki aing lain urang Sunda. Tapi kusabab simkuring dilahirkeun jeung gede diBandung, jadi we simkuring jadi urang sunda. Simkuring mah bangga bisa jadi bagian tina urang Sunda, komo deui jadi wargi Bandung. Bahasa sunda teh mangrupa salah sahiji bagian tina kabudayaan daerah anu kedahna teh dilestarikeun. Tapi jaman ayeuna mah geus seu'eur kapangaruh ku bahasa lain, sanajan kitu, tetep keneh tiasa bertahan. Da simkuring oge teu saratus persen ngarti basa Sunda, sababna, basa Sunda teh dipakena beda-beda, kumaha objek jeung subjekna nu makena. Komo simkuring mah rada hese lamun ngobrol jeung nu leuwih kolot, sabab kanu leuwih kolot mah bahasana teh kedah lemes. Sapopoe nongkrongna jeung barudak nu sapantaran, jadi we basa lemesna rada amburadul. Leresna mah kedahna dianggo unggal dinten bahasa lemes teh, ameh tiasa apal. Pas nulis ieu oge, urang mah rada ribet, papuket jeung rieut nuliskeunana, jadi we campur nu lemes jeung nu kasar teh jadi hiji. Keun lah, bisa dimaklum..hehehehe..ngaranna oge budak ngora. Nyahona nu rada kebarat-baratan siga rock 'n roll kitu lah, pokona mah samomodel nu kararitu.

Dina basa sunda teh nu ngarana barang hakan oge rea alternatipna, rek make nu mana. Sok bayangkeun ku maraneh, aya "Dahar", "Neda", "Tuang", "Lolodok", "Nyatu", jeung aya deui nu laenna, urang oge poho naon deui lantaran ku lobana (sok atuh tambahan deui). Jang nyebutkeun diri sorangan oge teu ngan hiji kata hungkul, teu siga tatangga nu boga "lo" jeung "gue" tea, di sunda mah rea, contona: "urang", "aing", "simkuring", "pribados", "abdi" jeung aya nu laen deui sigana mah, ngan urang pas nulis didieu poho, nu apal sok tambahan deui. Kusabab kitu, teu kabeh bisa kanyahoan kata-katana teh, lamun jawaban ti mas sastro mah "Cumu'un, da urangna teh teu ngartos kabeh" bari make aksen/logat jawa tea (eta naon sih anjing, "aksen" basa sundana teh?? punteun aink poho deui euy..hehehehe)
Tah eta kabeh nu sok nyieun simkuring resep make basa sunda, kulantaran reana alternatip nu tiasa diangge, diluar eta aya keneh kata-kata nu aneh nu sebenerna mah euweuh dinu basa Sunda aslina. Ayeuna simkuring teu linggih diBandung keneh, biasana make bahasa nu laen, tapi sok kaleupasan ku bahasa sunda tea, da meureun geus kabiasaan make basa sunda jeung letahna geus letah sunda tea.
Ieu punten pisan kanggo baraya nu teu ngarti ku naon nu simkuring serat didieu. Sanes kirang sono, tapi da rek kumaha deui. Asa teu lengkap lamun teu aya atawa euweuh basa sundaan dinu blog urang, da urang mah teu goblog-goblog amat sanajan rada blegug oge (rada mah rea hanteuna)..hehehehe...Jant
en dupi hoyong masihan komen mah, lamun tiasa ngangge basa sunda oge. Kaleresan kanggo baraya nu teu ngartos, teras hoyong diajar oge hayu jeung simkuring mah. Ngan nya eta, basa Sunda teh teu babari nu aslina. Urang oge nulis didieu campur-campur kieu bahasana. ah anjing paduli pisan lah..hahay!!
Continue Reading...

Friday, November 28, 2008

Keuntungan Dari Sesuatu Yang Tidak Menguntungkan


Pagi ini saya seperti biasa membuka inbox, dan lagi-lagi ada suatu email yang memaksa hasrat saya untuk menulis panjang, email tersebut adalah pertanyaan tentang keuntungan yang didapat dan hal spesial apa yang membuat tetap betah berada dilingkungan kerja dimana kita berada.

Adalah wajar jika yang namanya manusia hanya mencari keuntungan semata, dan memang itulah sifat dasar manusia yang selalu mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Segalanya bisa menguntungkan dan segalanya bisa merugikan, tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Tetapi juga jika kita terlalu melihat atau menimbang untung-rugi maka pada akhirnya kita akan takut untuk memulai suatu langkah, dan dari pertimbangan-pertimbangan tersebut membuat kita menjadi bimbang dan muncul pertanyaan “akankah kita untung??” atau “klo rugi kira-kira seberapa parah??”. Pada akhirnya waktu kita habis untuk memikirkan hal untung-rugi. Bekerja itu tidak bisa dipandang sebagai suatu pergulatan untung dan rugi semata, melainkan kehidupan yang harus dijalani dengan penuh semangat dan sesekali harus menertawakan diri sendiri. Sekarang pertanyaannya, apakah yang anda cari itu hanya keuntungan?? Jika iya, maka apa yang anda dapatkan diluar keuntungan akan membuat anda tertekan sehingga anda tidak berpikir bagaimana langkah selanjutnya jika kita benar-benar kehilangan keuntungan.

Ada sebuah pemikiran dari seorang pemimpin suatu negara “Filosofi dan isi utama negara adalah perlindungan, pelayanan dan pemberdayaan publik untuk kesejahteraan bersama, bukan masalah untung-rugi..” Sehingga jika salah satu elemennya hanya memikirkan keuntungan, kemungkinan akan ada perpecahan pemikiran dari tubuh yang berisi elemen-elemen tersebut, beda masalah jika berpikir untuk kesejahteraan bersama, setidaknya sifat-sifat egoisme bisa direduksi serendah mungkin dan akan terjadi improvement hasil dari pemikiran atas dasar kebersamaan.

Jangan lupa juga tanamkan dalam kepalamu jika “Kerja itu adalah Ibadah”, dan jika benar-benar terimplementasikan dengan sempurna dalam otakmu, maka yang kamu lakukan adalah untuk persembahan diri, penyerahan diri yang dilandasi oleh kesadaran mendalam dan serius. Bekerja yang dihayati sebagai ibadah, pada dasarnya akan membuat sikap kita menghadapi suatu lingkungan kerja menjadi berubah dan akan mengembangkan paradigma-paradigma positif seperti memberikan diri, membagikan ilmu pengetahuan, memberikan waktu, harta dan hati kita kepada komunitas kita bekerja, dan tindakan ini juga menjadi spesial bagi kita juga yaitu karena kita bisa hidup sepenuh-penuhnya, sesejati-sejatinya, segembira-gembiranya, sesenang-senangnya, sebahagia-bahagianya dan sehebat-hebatnya dalam artian tanpa egoisme pribadi.

Pada akhirnya jika kita mencari keuntungan, maka pikirkanlah keuntungan rohani dimana kita bisa hidup bersosial, mencari keuntungan bersama. Kebahagiaan itu adalah poin spesial yang bisa kita dapatkan daripada sekedar keuntungan finansial belaka. Semakin banyak dan semakin lama kita berpikir kerugian, pelan tapi pasti, kerugian yang sama akan menjadi bagian dari diri kita. Untuk saya sendiri, untungnya disini tak ada suatu otoritas yang benar-benar mengekang ideologi dan pemikiran yang saya anut, justru sebaliknya saya bisa memanfaatkan untuk lebih mengembangkannya, belajar mendengar dan didengar, belajar menghargai dan dihargai, belajar membantu dan dibantu. Semuanya ini demi perpanjangan tangan remah-remah dimulut kita, dan jangan biarkan pemikiran untung-rugi mengijinkan kita mati terlalu dini untuk berkreasi dan berimajinasi serta berkembang ke jenjang yang lebih tinggi.

Sukses selalu dan tetap semangat teman!!!
Continue Reading...

Wednesday, October 22, 2008

Membangun Surga diatas Puing-puing neraka


Tiba-tiba saja aku berada disebuah tempat yang belum pernah kudatangi. Aku berada dialam imajinasi akhirat, tempat bercahaya redup berwarna merah menyala mencekam, disana juga aku melihat orang-orang dengan tubuh yang tidak sempurna terpotong-potong dengan bercak-bercak darah melimpah tapi tetap bergerak-gerak seperti orang hidup sempurna. Teriakan dan rintihan kesakitan menyertai dunia itu, ah dunia itu menyerupai neraka, ketidak nyamanan laknat membuatku semakin gerah ingin keluar dari imajinasi neraka ini. Kemudian aku melihat sekelompok makhluk yang kepalanya ditutupi oleh semacam kain sehingga tidak jelas bagaimana wajah mereka, apakah mereka manusia atau bukan. Ada sekitar 50-an jumlah makhluk itu, mereka semua terapung dan tidak menapak pada dasar tanah. Aku juga melihat tangan-tangan mereka membawa potongan-potongan tubuh, benda-benda semacam jimat, cawan-cawan penuh darah dan juga ada yang membawa tombak-tombak berlumuran darah. Ada tonjolan semacam tanduk tapi tidak terlalu besar terlihat menonjol dibalik kain penutup kepala mereka. Warna hitam pekat pakaian mereka beserta kobaran api kecil berada diatas kepala mereka, dan setiap orang yang dilintasi makhluk tersebut langsung menjerit histeris seraya menikmati siksaan paling menyiksa. Ada satu yang bertubuh paling besar, aku kira dia adalah pemimpinnya, dia begitu tenang dan yang lainnya seolah diperintah dengan perasaan si pemimpin tersebut untuk memberikan siksaan paling menyakitkan. Tak kusangka makhluk-makhluk itu adalah bagian dari siksa yang menghampiri hampir setiap manusia yang ada didunia tersebut.

Lalu aku melihat kesisi lain, disana ada seorang anak yang membawa potongan tangannya sambil menangis, darahnya menetes kemana-mana. Aku mendekati anak itu lalu bertanya "apa yang terjadi dengan tanganmu adik kecil??" sambil tersedu-sedu dia menimpali pertanyaanku sambil sesekali merintih, katanya "selama aku hidup, aku mencuri beberapa kali, karena aku harus makan dan hidup, orang tuaku berpisah dan tak mempedulikan diriku, sedangkan aku hanyalah seorang anak kecil yang belum diterima dimana-mana untuk mencari makan. Aku hidup sendirian dan terkadang mendapatkan perlakuan tidak layak dari orang dewasa. Saat terakhir mencuri, aku terbunuh, mereka memotong tanganku dan tak ada yang membantuku untuk menghentikan aliran darah ini sehingga aku mati kehabisan darah"
Ah sayangnya aku bukan Tuhan, andai aku Tuhan mungkin aku tak akan membuatmu menderita seperti itu didunia...

Aku terperangah karena ada seorang paruh baya berteriak-teriak dari kejauhan, perutnya ditusuk oleh bongkahan batu tajam oleh beberapa makhluk-makhluk tadi dengan tawa-tawa cekikikan rasa puas, ususnya teruray, isi perutnya berantakan, darahnya bersimbah membasahi, matanya terbelalak menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Dia berteriak "aku ingin mati saja", namun sayang, dia sudah berada didunia kematian, walaupun tubuhnya terpisah-pisah dia akan tetap merasakannya, sakit yang sangat sakit. Aku tak berani mendekat, kukira cukup kulihat dari sini tempatku berdiri saja, aku tak tahan melihatnya, rasa mual melihat isi perutnya mulai menyapaku, memaksaku untuk memuntahkan isi perut melalui mulut.

Lantas aku memalingkan muka dari pemandangan mengerikan tersebut. Tapi aku mendapatkan pemandangan lain lagi dan setiap pojokan dunia tersebut aku pasti melihat kejanggalan perbuatan dan jeritan-jeritan penyiksaan tubuh juga rasa sakit. ..aah kukira mereka terlalu serius menjalani siksaan-siksaan tersebut, kenapa mereka tidak mencoba kabur ke tempat yang terang dan penuh rasa bahagia. Atau mereka terlalu bodoh untuk membangun Surga diantara puing-puing Neraka.

BEBASKAN AKU DARI IMAJINASI INI SEGERA!!


-[St. Yafet Pemadam Api Neraka]-

Continue Reading...

Tuesday, October 14, 2008

Hidupku tinggal 6 bulan


Mungkin cukup mengejutkan kalian teman, dan seharusnya tak perlu aku ceritakan. Tapi aku pikir hal ini perlu kalian ketahui, sehingga nanti ketika aku telah tiada kalian tidak menyesal atau belum terlambat untuk berbagi segala sesuatu yang indah bersamaku didunia ini. Momen-momen indah sebelum kepergianku harus terjadi dan tidak layak untuk disimpan menjadi mimpi-mimpi yang tidak pernah jadi kenyataan. Vonis hidup yang tinggal dalam hitungan bulan ini membuatku tertekan sekaligus menyudutkan diriku untuk berpikir keras tentang rencana dan perbuatan apa yang harus aku lakukan dalam interval yang terlalu pendek ini. Ada rencana negatif dan positif, tetapi aku berpikir lebih baik aku berbuat yang terbaik sehingga aku bisa meninggalkan kebahagiaan bagi teman-teman. Segala yang aku lakukan selama hidupku didunia ini dirasakan belum cukup berguna bagi orang-orang disekitarku, aku hanyalah sempalan kecil dari bagian kehidupan orang-orang itu dan nyaris tak berguna. Coba bayangkan apa yang ada dalam benak kalian jika kalian berada pada posisi yang sama seperti seorang kriminal yang mendapatkan hukuman mati dan selama sisa hidupnya dia berada dibalik jeruji tanpa bisa melihat dunia diluar penjara sampai eksekusi mati benar-benar dilakukan dan malaikat pencabut nyawa benar-benar berkata "ya" untuk memisahkan jiwa dan raganya. Aku tidak ingin seperti seorang kriminal itu, menunggu ajal dibalik teralis tanpa hal yang berguna. Selama ini penyakit kronis yang perlahan menggerogoti tubuh ini seolah menjadi rahasia pahit yang tersimpan rapi dalam lamunanku. Pelan tapi pasti semua perkiraan medis tersebut membuatku terkadang merasa didera keresahan yang sangat luar biasa. Kepulan asap rokok tak pernah kupedulikan keluar masuk paru-paruku untuk membantu mempercepat kematianku, karena ketika aku mulai merasa tertekan, rokoklah teman pelampiasanku. Aku takut jika teman-temanku yang lain merasakan kehilangan. Aku merasa mengkhianati dengan tanpa memberitahukan orang-orang disekitarku, karena aku takut kalian akan kecewa atau mungkin aroma persahabatan tidak benar-benar terasa. Serupa bom waktu yang siap-siap meledak, penyakit ini pun terus menghantuiku menuju kematian. Jika aku terus memikirkannya sendirian, aku merasa tidak sanggup, aku merasa hidup ini hampa ditemani kepastian jadwal dimana suatu saat nanti aku benar-benar meninggalkan dunia ini, dimana suatu hari nanti aku benar-benar menyudahi keceriaan bersama orang-orang disekitarku. Terkadang aku ingin menangis, mengapa hidupku ini harus berjalan teramat singkat, mengapa semua mimpi-mimpi yang kubangun semenjak aku belum terbangun harus terganggu dengan vonis pasti kematian. Rahasia ini terlalu menyakitkan dan diluar batas kemampuanku untuk menjaganya, sedangkan aku hanya ingin agar aku bisa terus bernafas, bermain, bersendagurau, berinteraksi dengan manusia-manusia disekitarku.

Sebelum aku benar-benar telah tiada, aku ingin menyapa kalian, aku ingin berbagi senyuman dengan kalian, aku ingin menuntaskan harapan-harapan yang pernah kita bangun diantara puing-puing kegagalan, aku ingin menyempurnakan nazar-nazar yang pernah kita ungkapkan, aku ingin menghancurkan asumsi-asumsi negatif diantara kita, aku ingin memohon maaf atas ketidakmampuanku menjaga ekspektasi sesuai dengan apa yang kalian harapkan. Semoga dengan kata-kata ini aku benar-benar bisa meninggalkan dunia ini dengan sempurna dan tenang. Semua yang aku tulis disini adalah terlalu pendek untuk menggambarkan seluruh keinginan dan harapanku. Disini aku tidak menyalahkan Tuhanku yang membuat garis hidupku terlalu pendek, tidak pula aku ingin menghakimiNya atas semua ujian-ujian hidup serta segala permasalahan yang menghinggapi diriku selama aku hidup, Justru sebaliknya aku bersyukur kepada Tuhan atas keindahan dan kesempurnaan yang telah Dia berikan dalam hidupku ini sehingga membangun kedewasaan berpikirku dalam bertingkah dan melangkah serta menghargai hidup yang telah diberikan.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan hidup ini, terima kasih ibu dan bapak yang telah menjadi perantara kedatanganku ke dunia ini, terima kasih untuk orang tersayang yang selalu mewarnai hati ini, terima kasih teman telah menyertai dalam hidup ini, terimakasih dunia dan segala isinya yang maha sempurna, terima kasih segala aktifitas dan kesibukan yang membuatku lupa akan kesedihan, terima kasih penyakit yang membuatku memiliki sejuta rasa syukur atas kesehatan yang pernah aku miliki. Sejumput doa kalian adalah hamparan padang rumput yang memberi keindahan hidupku dan suntikan semangat kalian adalah sebagai teman dari selang infus yang membuatku tetap hidup penuh gairah. Semoga hidup kalian tetap diberkati Tuhan. Maaf teman, aku harus mengakhiri semua ini terlalu dini.

*aku yafet dan sejuta harapan untuk hidup menjadi kenyataan-fiktif*
Continue Reading...
 

+dimanaanakku+ Copyleft © 2009 AllFight Deserved | WoodMag is Designed by Ipietoon and Modified by Yafet St. OfGod